ONTOLOGI ILMU DAN KRISIS MAKNA DI ERA DIGITAL

- Penulis

Kamis, 14 Mei 2026 - 00:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Tarma Sartima
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasakti di Padang

 

PADANG, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id – Di zaman digital hari ini, manusia bisa mengetahui hampir segala sesuatu hanya melalui sentuhan jari. Informasi hadir begitu cepat, bahkan sering kali lebih cepat daripada proses berpikir itu sendiri. Teknologi membuat pengetahuan menjadi instan, ringkas, dan mudah diakses. Namun di tengah kemudahan itu, muncul sebuah ironi besar: manusia modern semakin banyak tahu, tetapi semakin kehilangan makna. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi justru mengalami kekeringan kebijaksanaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kajian filsafat, ontologi membahas hakikat sesuatu, termasuk hakikat ilmu pengetahuan. Pertanyaan mendasarnya sederhana namun sangat penting: untuk apa ilmu itu ada? Apakah ilmu hanya alat untuk menguasai dunia, ataukah jalan untuk memuliakan manusia?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di era digital ketika pengetahuan perlahan berubah menjadi komoditas. Ilmu tidak lagi dipahami sebagai proses pencarian kebenaran, melainkan sering diproduksi secara cepat demi popularitas, viralitas, dan keuntungan pasar digital.

Hari ini ukuran kepandaian sering kali bukan lagi kedalaman berpikir, melainkan seberapa ramai dibicarakan di media sosial. Akademisi berlomba menjadi konten kreator. Ceramah dipotong menjadi video singkat. Diskusi ilmiah kalah bersaing dengan sensasi dan hiburan digital. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang lebih percaya pada influencer daripada hasil penelitian ilmiah.

Filsuf Prancis, Jean Baudrillard, pernah menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat simulasi, ketika citra lebih penting daripada substansi. Dalam ruang digital, pengetahuan sering hanya menjadi “hiasan layar”. Yang utama bukan lagi benar atau salah, tetapi ramai atau sepi, viral atau tidak. Di titik inilah ilmu mulai kehilangan ruh reflektifnya.

Ironisnya, era digital juga melahirkan generasi yang mudah berbicara tentang banyak hal tanpa benar-benar memahami apa yang dibicarakan. Semua merasa ahli. Semua merasa paling benar. Media sosial berubah menjadi “universitas tanpa kurikulum”, tempat opini diperlakukan seolah setara dengan pengetahuan ilmiah. Di sinilah krisis makna mulai terasa nyata.

Kita juga menyaksikan bagaimana literasi sering dipahami hanya sebatas kemampuan mengakses informasi. Padahal menurut Paulo Freire, pendidikan sejati seharusnya membangun kesadaran kritis, bukan sekadar menumpuk data dalam kepala manusia. Tetapi dunia digital justru mendorong manusia menjadi konsumen informasi yang pasif dan reaktif.

Akibatnya, ruang publik lebih banyak dipenuhi kegaduhan daripada pencerahan. Debat berubah menjadi arena saling menjatuhkan, bukan ruang mencari kebenaran. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan intelektual.

Dalam perspektif ontologi ilmu, kondisi ini sesungguhnya sangat mengkhawatirkan. Ilmu perlahan kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya. Pengetahuan tidak lagi diposisikan sebagai jalan menuju kebijaksanaan, tetapi sekadar alat membangun citra diri. Gelar akademik kadang hanya menjadi ornamen sosial, sementara kejujuran intelektual justru mengalami krisis.

Lebih satiris lagi, kita hidup di masa ketika orang rajin mengutip kata-kata filsuf di media sosial, tetapi malas membaca gagasan utuhnya. Semua ingin terlihat pintar, tetapi sedikit yang benar-benar mau berpikir mendalam. Maka lahirlah generasi “scrolling intelektual”: cepat mengomentari, lambat merenungi.

Padahal para pemikir besar sejak lama telah mengingatkan bahwa ilmu tanpa moral dapat menjadi ancaman bagi kemanusiaan. Al-Ghazali menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan kedekatan kepada Tuhan, bukan sekadar instrumen duniawi. Sementara Martin Heidegger mengkritik modernitas yang terlalu memuja teknologi hingga melupakan makna keberadaan manusia itu sendiri.

Kritik Heidegger terasa sangat relevan hari ini. Dunia digital membuat manusia sibuk terkoneksi, tetapi kehilangan kedekatan eksistensial. Kita lebih sering berbicara dengan layar daripada berdialog dengan diri sendiri. Akibatnya, ilmu kehilangan dimensi kontemplatifnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma media sosial kini perlahan menentukan apa yang kita baca, pikirkan, bahkan percayai. Pengetahuan tidak lagi lahir sepenuhnya dari pencarian bebas, tetapi diarahkan oleh kepentingan pasar digital. Kebenaran sering dikalahkan oleh engagement. Rasionalitas kalah oleh sensasi.

Di sinilah krisis makna mencapai titik paling ironis. Peradaban digital yang seharusnya memperluas cakrawala ilmu justru berpotensi melahirkan manusia yang dangkal secara intelektual dan rapuh secara spiritual.

Karena itu, membaca ulang ontologi ilmu menjadi penting. Dunia pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan teknis digital, tetapi juga harus menanamkan etika berpikir, kedalaman refleksi, dan tanggung jawab moral. Sebab ilmu sejatinya bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga memahami makna keberadaan manusia.

Jika tidak, kita mungkin akan melahirkan generasi yang sangat cerdas mengoperasikan teknologi, tetapi gagal memahami untuk apa kecerdasan itu digunakan. Dan ketika ilmu kehilangan makna, sesungguhnya peradaban sedang berjalan menuju krisis yang paling sunyi. By: (TS)

Editor/ Publisher Sumbar Times Oke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

RTRW Solok Selatan 20 Tahun ke Depan Disahkan, Komitmen Keterbukaan Publik Pemkab dan DPRD Dipertanyakan
Gencarkan Ekonomi Kerakyatan, Dekopinwil Sumbar Dorong Akselerasi Koperasi Merah Putih
KOMITMEN NYATA POLDA SUMBAR: DI BAWAH KEPEMIMPINAN KOMBES POL ANDRY KURNIAWAN, JARINGAN MAFIA EMAS ILEGAL INTERNASIONAL BERHASIL DIGAGALKAN
Kemerdekaan dalam Peradaban Minangkabau: Merawat Sumpah Tradisi dan Kedaulatan Diri
“Soroti Selisih Harga Material Proyek Strategis Nasional di Sumbar, Ketua LMR-RI: Potensi Kerugian Negara Harus Diaudit”
Memaknai Kemerdekaan ke-81, LMR-RI Komwil Sumbar Ajak Masyarakat Rawat Nilai Kebangsaan dan Jaga Persatuan
Menanti Normalisasi Batang Layah: Asa Petani Salareh Aia di Antara Trauma Banjir dan Ketidakpastian Lahan
Semburan Lumpur Pauah Duo: Menguji Tanggung Jawab Ekologis PT SEML, Pemkab Solok Selatan, dan Komitmen Penegakan Hukum

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:03 WIB

RTRW Solok Selatan 20 Tahun ke Depan Disahkan, Komitmen Keterbukaan Publik Pemkab dan DPRD Dipertanyakan

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:57 WIB

Gencarkan Ekonomi Kerakyatan, Dekopinwil Sumbar Dorong Akselerasi Koperasi Merah Putih

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:07 WIB

KOMITMEN NYATA POLDA SUMBAR: DI BAWAH KEPEMIMPINAN KOMBES POL ANDRY KURNIAWAN, JARINGAN MAFIA EMAS ILEGAL INTERNASIONAL BERHASIL DIGAGALKAN

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:26 WIB

Kemerdekaan dalam Peradaban Minangkabau: Merawat Sumpah Tradisi dan Kedaulatan Diri

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:13 WIB

“Soroti Selisih Harga Material Proyek Strategis Nasional di Sumbar, Ketua LMR-RI: Potensi Kerugian Negara Harus Diaudit”

Berita Terbaru