Jejak Tomé Pires di Malaka: Ketika Nusantara Menjadi Pusat Perdagangan Dunia

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 09:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Otong Rosadi

 

PADANG, SUMBAR TIMES OKE.  www.sumbartimesoke.id  – Setiap kali berkunjung ke Malaka, sering kali waktu tidak cukup leluasa untuk menelusuri jejak-jejak sejarah lamanya. Bahkan mengunjungi replika kapal Flor do Mar atau Flor de la Mar (“Bunga Laut”) pun kerap tidak sempat dilakukan. Padahal kapal legendaris Portugis itu bukan sekadar simbol wisata sejarah, melainkan penanda penting bagaimana Malaka pernah menjadi pusat perebutan perdagangan dunia pada awal abad ke-16.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suatu ketika, anak angkat kami yang kini bertugas sebagai jaksa di Selangor dan merupakan putra kelahiran Masjid Tanah pernah berpesan, “Jika ke Melaka lagi, seharusnya kita lebihkan masa di Bandar Melaka untuk menelusuri jejak Afonso.” Kalimat sederhana itu justru menghadirkan kesadaran penting bahwa Malaka bukan sekadar kota wisata, melainkan ruang sejarah besar yang pernah mengubah arah perdagangan dan geopolitik dunia.

Yang dimaksud tentu adalah jejak Afonso de Albuquerque, tokoh Portugis yang menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Penaklukan itu bukan hanya peristiwa militer biasa, tetapi titik balik sejarah Asia Tenggara. Sejak saat itu, bangsa-bangsa Eropa mulai masuk lebih jauh ke jaringan perdagangan Asia dan menjadikan Malaka sebagai pusat kontrol perdagangan rempah-rempah dunia.

Di antara jalur laut terpenting dalam sejarah dunia, Selat Malaka menempati posisi yang sangat istimewa. Sejak berabad-abad lalu, selat ini bukan sekadar perairan yang memisahkan Pulau Sumatra dengan Semenanjung Melayu, melainkan urat nadi perdagangan internasional yang menghubungkan Laut Hindi, negeri-negeri Arab, Gujarat, pesisir Koromandel, Tiongkok, Jawa, hingga kepulauan rempah di timur Nusantara. Di jalur inilah kapal-kapal dunia saling bertemu, membawa lada, cengkeh, pala, sutra, emas, keramik, hingga gagasan dan kebudayaan.

Karena itu tidak mengherankan apabila seorang penulis Portugis abad ke-16, Tomé Pires, pernah menulis kalimat terkenal: “Siapa menguasai Malaka, tangannya mencekik tenggorokan Venesia” (Quem é senhor de Malaca tem a mão na garganta de Veneza). Ungkapan tersebut bukan sekadar metafora sastra, melainkan gambaran tentang betapa strategisnya Malaka dalam geopolitik dunia pada masa itu. Menguasai Malaka berarti menguasai jalur perdagangan Asia yang menjadi sumber kekayaan Eropa.

Tomé Pires sendiri merupakan sosok multi-talenta dari Portugal yang hidup sekitar tahun 1468 hingga 1524 atau 1540. Sebelum dikenal sebagai penulis dan pengamat Asia, ia lebih dahulu meniti karier sebagai apoteker kerajaan. Pires pernah menjadi apoteker bagi Pangeran Afonso, pewaris takhta Portugal. Latar belakang farmasi inilah yang kemudian membawanya masuk ke dalam jaringan perdagangan komoditas Timur yang sangat penting bagi ekspansi Portugis.

Pada tahun 1511, Tomé Pires berlayar ke India dan diangkat sebagai “faktor obat-obatan” di Cannanore. Jabatan itu bukan posisi kecil, sebab perdagangan obat, rempah, dan bahan-bahan kesehatan pada masa itu merupakan bagian penting ekonomi maritim Portugis. Dari India, pengalamannya tentang dunia Timur semakin luas hingga akhirnya pada tahun 1512 ia dikirim ke Malaka, sebuah kota pelabuhan strategis yang baru saja direbut Portugis setahun sebelumnya.

Di Malaka, Tomé Pires menjabat sebagai kepala akuntan untuk pabrik kerajaan Portugis. Posisi tersebut memberinya akses luar biasa terhadap berbagai informasi perdagangan, politik, pelayaran, dan kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Ia berjumpa dengan para pedagang dari Arab, Gujarat, Jawa, Melayu, Persia, Tiongkok, hingga kepulauan rempah di timur Nusantara. Dari observasi dan catatan yang dikumpulkannya selama bertugas di Malaka itulah lahir sebuah karya monumental yang kelak menjadi salah satu sumber sejarah paling penting tentang Asia abad ke-16, yakni Suma Oriental.

Karya itu berjudul lengkap Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins, yang berarti “Ikhtisar Dunia Timur dari Laut Merah hingga Negeri Tiongkok.” Ditulis di Malaka sekitar tahun 1512–1515, buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi semacam ensiklopedia geopolitik dan perdagangan Asia.

Melalui catatan Tomé Pires, dunia Eropa mulai memahami bahwa negeri-negeri di kepulauan Nusantara bukan wilayah pinggiran yang terisolasi, melainkan pusat perdagangan internasional yang sangat maju. Ia menggambarkan bagaimana lada dari negeri Sunda dan pesisir Sumatra mengalir menuju Malaka. Dari Jawa datang beras dan bahan pangan, sementara dari Maluku datang cengkeh dan pala yang menjadi komoditas paling mahal di pasar dunia waktu itu.

Pandangan Tomé Pires tentang pentingnya Malaka kemudian diperkuat oleh catatan Jan Huygen van Linschoten dalam karya terkenalnya Itinerario yang terbit beberapa dekade setelah Suma Oriental. Jika Tomé Pires menulis Malaka pada awal dominasi Portugis, Van Linschoten menyaksikan bagaimana kota pelabuhan itu telah menjadi pusat perebutan pengaruh dagang Eropa di Asia.

Jika Suma Oriental menggambarkan wajah Asia Tenggara ketika Portugis baru mulai membangun kekuasaan maritimnya, maka Itinerario menunjukkan bagaimana jalur perdagangan Asia mulai diperebutkan secara terbuka oleh kekuatan-kekuatan Eropa. Kedua karya tersebut sama-sama menempatkan Malaka sebagai pusat geopolitik maritim dunia Timur.

Di sinilah pentingnya membaca ulang catatan-catatan lama itu hari ini. Malaka mengajarkan bahwa laut bukan sekadar batas geografis, melainkan ruang perebutan ekonomi, perdagangan, pengetahuan, dan kekuasaan. Dan mungkin benar seperti pesan anak muda dari Masjid Tanah itu, suatu hari jika kembali ke Melaka, kita memang perlu meluangkan waktu lebih lama untuk menelusuri jejak Afonso, Tomé Pires, dan jejak sejarah besar yang pernah mengubah arah dunia dari sebuah kota pelabuhan di tepi Selat Malaka. Release by: (OR)

Editor/ Publisher Sumbar Times Oke.  www.sumbartimesoke.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua DPW Pemuda Lira Riau Soroti Sosok Muhamad Sambu Harman anak suparman menjadi Komisaris PT SPR Langgak.
Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Eri Amat: Bongkar Jaringan Oknum APH dan Pers yang Bermain Mata!
Gerakan Penghijauan , Pemko dan Polres Tanam 500 Bibit Pohon
Baznas Salurkan Rp231,2 Juta Dana Zakat untuk 133 KK
“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:52 WIB

Ketua DPW Pemuda Lira Riau Soroti Sosok Muhamad Sambu Harman anak suparman menjadi Komisaris PT SPR Langgak.

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:16 WIB

Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Eri Amat: Bongkar Jaringan Oknum APH dan Pers yang Bermain Mata!

Kamis, 25 Juni 2026 - 06:53 WIB

Gerakan Penghijauan , Pemko dan Polres Tanam 500 Bibit Pohon

Kamis, 25 Juni 2026 - 06:45 WIB

Baznas Salurkan Rp231,2 Juta Dana Zakat untuk 133 KK

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Berita Terbaru

Uncategorized

Gerakan Penghijauan , Pemko dan Polres Tanam 500 Bibit Pohon

Kamis, 25 Jun 2026 - 06:53 WIB

Uncategorized

Baznas Salurkan Rp231,2 Juta Dana Zakat untuk 133 KK

Kamis, 25 Jun 2026 - 06:45 WIB