PASAMAN BARAT, SUMBAR TIMES OKE www.sumbartimesoke.id “Allah tidak pernah terlambat menunjukkan jalan. Tugas manusia hanyalah berjalan, berikhtiar, lalu bertawakal.”
Di sebuah dusun kecil bernama Lubuk Juangan, di tepian Batang Air Haji, Kecamatan Sungai Aur, Pasaman Barat, pada 6 Desember 1979, lahirlah seorang anak dari keluarga sederhana. Tak ada kemewahan yang menyambut masa kecilnya. Ayahnya hanyalah seorang kuli kayu olahan, sementara ibunya mengajarkan kesabaran sebagai harta yang tak pernah habis.
Anak itu bernama Eddisal. Kini, banyak orang mengenalnya dengan panggilan Buya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hidupnya tidak pernah mengenal jalan yang lurus tanpa tikungan. Sejak kecil, ia akrab dengan keterbatasan. Namun, ada satu keyakinan yang selalu ia genggam: Allah SWT adalah sebaik-baik penolong. Keyakinan itulah yang kelak menjadi pelita ketika jalan hidup terasa gelap.
Setelah menamatkan SMA pada 1998, Eddisal menyimpan impian sederhana tetapi besar: menjadi seorang sarjana. Ia bahkan bercita-cita menjadi Sarjana Hukum. Sayangnya, keadaan ekonomi keluarga berkata lain. Impian itu harus ditunda. Bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena keadaan memaksanya memilih membantu orang tua daripada duduk di bangku kuliah.
Ia kembali ke sawah. Menjadi petani. Menyatu dengan lumpur dan terik matahari. Namun, jauh di dalam hati, mimpi itu tidak pernah mati. Ia hanya menunggu musim yang tepat untuk kembali tumbuh.
Setahun berlalu. Suatu hari, dengan restu kedua orang tuanya, Eddisal berangkat menuju Kota Padang. Bekalnya sangat sederhana. Tidak ada koper berisi pakaian mahal, tidak ada uang yang cukup untuk menjamin masa depan. Yang dibawanya hanyalah tekad.
_”Saya tidak akan pulang sebelum berhasil.”_
Kalimat itu menjadi janji yang ia ikat dalam dirinya sendiri. Di kota rantau, kehidupan mengajarinya arti bertahan. Ia menjadi kuli bangunan, berdagang makanan ringan, menjual rokok batangan di pasar pagi, dan melakukan apa saja yang halal demi menyambung hidup. Baginya, tidak ada pekerjaan yang rendah. Yang rendah hanyalah menyerah sebelum berjuang.
Di tengah perjalanan panjang itu, Allah SWT menghadirkan sebuah pertemuan yang mengubah arah hidupnya.
Seorang paman datang merantau ke Padang. Paman itu adalah alumni sebuah pesantren tradisional di Pasaman. Mereka memiliki mimpi yang sama: melanjutkan pendidikan.
Dengan bekal yang nyaris tidak ada, keduanya mencari tempat berteduh. Mereka menemukan sebuah “penginapan” yang kelak menjadi saksi perubahan hidup. Dengan sedikit berseloroh, Buya mengenangnya sebagai “Hotel Muslim”—tinggal gratis, makan dibayar. Sesungguhnya, tempat itu adalah sebuah masjid.
Di sanalah mereka tinggal. Menjadi marbot masjid, mengurus rumah Allah sambil menata masa depan.
Barangkali di situlah doa yang setiap hari dibaca menemukan jawabannya.
“Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm…”
Tunjukilah kami jalan yang lurus. Dari masjid itulah jalan itu terbuka.
Eddisal bersama pamannya mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Meski bukan lulusan pesantren, ia mampu mengikuti perkuliahan dengan tekun. Siang hari ia belajar di kampus. Selebihnya ia mengurus masjid dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Masjid menjadi tempat ia bersujud, belajar, sekaligus membangun harapan.
Pada tahun 2003, ia berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) di Fakultas Dakwah UIN Imam Bonjol Padang dengan predikat yang sangat memuaskan.
Kelulusan itu bukan sekadar memperoleh ijazah. Itu adalah kemenangan atas rasa putus asa yang pernah datang bertamu.
Namun, Allah SWT ternyata telah menyiapkan jalan berikutnya.
Pada tahun 2004, Polri membuka penerimaan Bintara Sumber Sarjana.
Selama kuliah, Edisal dikenal aktif berorganisasi. Ia menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang UIN Imam Bonjol Padang. Dari organisasi itulah ia mengenal banyak senior yang kemudian mengabdi di Kepolisian, di antaranya AKBP Aswir Nasution.
Dorongan para senior membuatnya memberanikan diri mengikuti seleksi. Tanpa banyak perhitungan, ia mendaftar dengan satu niat: mengabdi karena Allah SWT.
Takdir pun berbicara tegas. Allah SWT berkehendak.
Pada Gelombang II Tahun 2004, Edisal dinyatakan lulus dan resmi menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Perjalanan hidupnya memasuki babak baru.
Seragam polisi tidak membuatnya berhenti belajar. Justru sebaliknya, pendidikan menjadi bagian dari pengabdiannya.
Tahun 2015, ia meraih gelar Magister Sains (M.Si.) dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia.
Sebelas tahun kemudian, pada Juni 2026, ia kembali menyelesaikan pendidikan Magister Hukum (M.H.) di Universitas Ekasakti Padang di bawah bimbingan Dr. Otong Rosadi, S.H., M.Hum. Dosen senior pada Pascasarjana sekaligus juga seniornya di KAHMI.
Bagi IPTU Eddisal, dua gelar magister bukanlah garis akhir jenjang pendidikan formal. Buya ingin tuntas hingga S3.
Ia mengatakan bahwa dirinya masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Program Doktor (S-3) di sela-sela pengabdiannya sebagai anggota Polri.
“Belajar tidak mengenal usia. Selama Allah masih memberi kesempatan, saya ingin terus belajar agar bisa memberi manfaat yang lebih besar,” tuturnya.
Ketika ditanya apa rahasia mampu melewati begitu banyak ujian kehidupan, Buya tidak berbicara tentang kecerdasan ataupun keberuntungan. Buya Eddisal hanya tersenyum.
“Jangan pernah tinggalkan salat Duha dan Tahajud. Setelah itu, serahkan semuanya kepada Allah.”
Lalu Buya teringat kutipan firman Allah SWT:
_”Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh. Innallāha yuḥibbul mutawakkilīn.”_
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)
Selain mengemban amanah sebagai perwira Polri, Buya Eddisal juga dipercaya menjadi Ketua Ikatan Alumni Fakultas Dakwah UIN Imam Bonjol Padang Cabang Pasaman Barat.
Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari tempat yang megah. Kadang ia bermula dari pematang sawah, dari pasar pagi, dari pekerjaan kasar, atau dari sebuah sajadah di sudut masjid.
Dari seorang petani, buruh, pedagang kecil, hingga menjadi marbot masjid. Dari marbot, ia melangkah menjadi anggota Polri. Dari ruang tugas, ia terus kembali ke ruang-ruang kuliah. Semua dijalani dengan keyakinan bahwa ilmu dan pengabdian adalah dua jalan yang saling menguatkan.
Kisah Buya Eddisal adalah pengingat bahwa takdir bukan sekadar sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang dijemput dengan ikhtiar, disirami doa, dan dipeluk dengan kesabaran.
Sebab pada akhirnya, Allah selalu memiliki cara yang indah untuk mengantarkan hamba-Nya menuju tempat terbaik yang telah Dia siapkan. (OR)
Contact Redaksi: 081377271073
Editor/ Publis: Sumbar Times Oke
www.sumbartimesoke.id













