SOLOK SELATAN, SUMBAR TIMES OKE www.sumbartimesoke.id – Infrastruktur bukan sekadar beton dan aspal, melainkan instrumen fundamental dalam pemenuhan hak-hak dasar ekonomi dan pendidikan masyarakat. Namun, bagi warga di ujung Kecamatan Sungai Pagu, tepatnya di jalur penghubung Koto Bira menuju Jorong Simancuang, Kabupaten Solok Selatan, hak dasar tersebut tampaknya masih menjadi barang mewah yang harus diperjuangkan di atas ketidakpastian.
Selama 22 tahun, jalan usaha tani sepanjang kurang lebih 8 kilometer yang menjadi urat nadi perekonomian kawasan tersebut dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan. Setiap hari, para petani harus bertaruh nyawa meniti jembatan darurat dari gelondongan kayu bulat yang licin dan berlumpur, terutama saat intensitas hujan tinggi. Jalur inilah yang menjadi satu-satunya akses untuk menyalurkan komoditas singkong, jagung, dan kopi menuju pasar.
“Sejak generasi terdahulu mencari kayu bakar di hutan, akses jalan ini sudah ada. Namun hingga hari ini, kondisinya tidak pernah berubah signifikan. Kami hampir kehilangan harapan,” ujar salah seorang petani setempat dengan nada getir, Selasa (27/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi infrastruktur yang suboptimal ini berdampak domino pada struktur sosial-ekonomi masyarakat. Selain melonjaknya biaya logistik yang menggerus pendapatan petani, akses yang rusak parah ini juga memicu risiko keselamatan batin, menghambat anak-anak menuju sekolah, hingga memaksa warga memutar otak demi mempertahankan taraf hidup paling dasar.
Respons Kebijakan dan Tantangan Anggaran
Upaya konfirmasi dilakukan guna mendapatkan keberimbangan informasi terkait perencanaan pembangunan daerah. Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Rabu pagi (29/7/2026), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kabupaten Solok Selatan, Yolly, memberikan penjelasan normatif mengenai keterbatasan ruang fiskal daerah pada tahun anggaran berjalan.
“Tidak ada alokasi dana APBD tahun 2026 untuk perbaikan jalan Koto Bira–Simancuang. Kemungkinan pada tahun anggaran 2027 nanti akan coba kita usulkan kembali,” jelas Yolly singkat.
Ketiadaan plot anggaran ini memicu respons kritis dari berbagai elemen masyarakat yang melihat adanya kesenjangan (gap) antara realitas sosiologis di lapangan dengan representasi keberhasilan pembangunan yang kerap diamplifikasi oleh jajaran birokrasi di media sosial.
Kritik Sosiologis dan Desakan dari Ir. Sutan Hendy Alamsyah Ketua LMR-RI Komisariat Wilayah Sumatera Barat. Ir. St. Hendy Alamsyah, yang juga merupakan putra daerah Sungai Pagu, menyampaikan kritik tajam terhadap skala prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan. Menurutnya, pemerintah daerah harus memiliki kepekaan sosial (social sensitivity) yang tinggi dalam menyusun skala prioritas anggaran.
“Kita melihat adanya kontras yang tajam. Di satu sisi masyarakat disuguhkan dengan publikasi berbagai pencapaian dan penghargaan daerah di media sosial. Di sisi lain, ada ratusan kepala keluarga yang bertaruh keselamatan setiap hari di jalan maut tersebut. Kebijakan publik harus berorientasi pada kemaslahatan murni, bukan sekadar pemenuhan indikator administratif,” tegas Hendy.
Pandangan senada juga disampaikan oleh mantan birokrat Pemkab Solok Selatan asal Pulakek Koto Bira, A.P. Ia menekankan pentingnya pengawalan perencanaan anggaran yang komprehensif dari hulu ke hilir agar tidak selalu gagal di tahap realisasi.
“Sudah selayaknya instansi terkait melakukan pengawalan ketat mulai dari tahap pengusulan hingga masuk ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Menghadapi keterbatasan APBD, pemerintah daerah juga harus progresif menjemput bola ke pembiayaan pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) atau secara bertahap mengintegrasikannya dengan Dana Nagari/Desa,” saran A.P.
Dua dekade lebih bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah penantian. Di tengah narasi besar pembangunan daerah, kisah dari Koto Bira–Simancuang menjadi pengingat penting: bahwa esensi tertinggi dari pembangunan adalah memanusiakan manusia dan menghadirkan keadilan sosial yang merata hingga ke ujung negeri.
(Laporan Wartawan Sumbar Times Oke dari Solok Selatan: Endri Alamsyah)
Contact Redaksi: 081377271073
Editor/ Publisher: Sumbar Times Oke
www.sumbartimesoke.id













