Oleh: Otong Rosadi, S.H., M.Hum., CCD.
Dosen Politik Hukum dan Filsafat Hukum Universitas Ekasakti Padang
SUMBAR TIMES OKE, PADANG. www.sumbartimesoke.id. – Di hari Tasyrik, 12 Dzulhijjah 1447 H, ketika umat Islam masih merawat syukur dan mengingat makna qurban, saya tersentak oleh dua peristiwa yang datang hampir bersamaan. Pertama, adanya permintaan untuk menulis artikel tentang Idul Qurban dan maknanya bagi arah pendidikan kita dewasa ini. Kedua, sebuah nasihat sederhana dari seorang kawan mengenai cara kita bergaul dengan sesama. Pesannya singkat, tetapi terasa menghunjam: hargailah setiap teman sesuai dengan proporsinya.
.
Nasihat itu membuat saya terdiam sejenak. Merenung. Menimbang kembali banyak hal yang selama ini mungkin berjalan begitu saja tanpa cukup disadari. Menariknya, dua peristiwa yang datang hampir bersamaan itu ternyata saling berkelindan. Permintaan menulis tentang qurban dan nasihat tentang adab sama-sama membawa saya pada satu pertanyaan mendasar: apakah pendidikan yang kita bangun hari ini masih memberi ruang yang cukup bagi pembentukan karakter dan keteladanan?
.
Saya tidak perlu berpikir terlalu keras mengenai pentingnya adab. Dalam tradisi keilmuan Islam, adab bukan terutama untuk diperdebatkan, melainkan untuk dipraktikkan. Adab tumbuh dari pembiasaan, dari sikap hidup, dan dari kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Karena itulah, setelah menyampaikan permohonan maaf atas gaya komunikasi saya selama dua bulan terakhir yang mungkin kurang berkenan bagi seorang kolega, lalu menerima tanggapan yang baik darinya, saya merasa perlu melakukan muhasabah. Terkadang sebuah teguran yang tulus jauh lebih berharga daripada seratus pujian yang menyenangkan.
.
Beberapa saat kemudian saya kembali bekerja seperti biasa. Di hadapan saya telah menunggu draft disertasi yang sejak pagi harus dibaca halaman demi halaman. Kini pekerjaan akademik memang terasa berbeda. Ada laptop yang semakin canggih, telepon pintar yang hampir selalu berada dalam genggaman, dan berbagai aplikasi kecerdasan artifisial yang mampu membantu pekerjaan intelektual dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Namun di tengah kemajuan itu, saya semakin menyadari bahwa teknologi hanya membantu manusia berpikir, bukan menggantikan kebijaksanaan manusia dalam menjalani kehidupan.
.
Pada titik itulah pikiran saya kembali kepada makna Idul Qurban.
.
Setiap tahun umat Islam memperingati peristiwa agung yang berpusat pada keluarga Nabi Ibrahim a.s. Namun sering kali perhatian kita lebih banyak tertuju pada ritual penyembelihan hewan qurban daripada pelajaran kemanusiaan yang terkandung di baliknya. Padahal kisah Ibrahim adalah kisah pendidikan yang sangat mendalam tentang integritas, keteladanan, komunikasi, dan pembentukan karakter.
.
Nabi Ibrahim a.s. memberikan teladan tentang integritas. Ketika menerima perintah yang sangat berat, beliau tidak mencari jalan pintas. Beliau menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu menaklukkan dirinya sendiri sebelum berharap mampu memimpin orang lain. Integritas bukan sekadar kesesuaian antara ucapan dan tindakan, melainkan keberanian untuk tetap teguh pada nilai yang diyakini meskipun harus menanggung risiko yang besar. Keteladanan berikutnya datang dari Nabi Ismail a.s. Yang menarik, Al-Qur’an menggambarkan adanya dialog antara ayah dan anak. Ibrahim menyampaikan apa yang dilihatnya dalam mimpi, lalu meminta pendapat Ismail. Tidak ada paksaan. Tidak ada dominasi. Yang ada adalah komunikasi yang melahirkan kesadaran. Ismail menerima perintah itu bukan karena ketakutan, melainkan karena pemahaman dan keyakinan. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang melahirkan kepatuhan yang membuta, melainkan kesadaran yang tumbuh dari pemahaman.
.
Keteladan berikutnya datang dari Ibunda Hajar, yang sering kali kurang mendapat perhatian dalam narasi qurban. Padahal tanpa keteguhan Hajar, kisah keluarga Ibrahim tidak akan menjadi pelajaran besar bagi peradaban manusia. Hajar mengajarkan daya tahan, kesabaran, dan ikhtiar yang tidak pernah menyerah. Dari seorang ibu yang berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air bagi anaknya, lahirlah pelajaran bahwa harapan tidak boleh mati sekalipun keadaan tampak mustahil.
.
Ibrahim As, mengajarkan integritas. Putranya Ismail As mengajarkan kesadaran dan pengorbanan. Ibunda Hajar mengajarkan ketangguhan. Ketiganya membentuk satu kesatuan pendidikan keluarga yang utuh. Di sinilah letak relevansi Idul Qurban bagi dunia pendidikan kita hari ini. Kita hidup pada zaman yang kaya informasi, tetapi sering miskin keteladanan. Sekolah dan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang semakin terampil menggunakan teknologi, tetapi belum tentu semakin bijak dalam memperlakukan sesama. Kita memiliki banyak instrumen penilaian akademik, tetapi belum tentu berhasil menumbuhkan empati, rasa hormat, dan kemampuan menghargai orang lain sesuai tempat dan proporsinya.
Padahal inti pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pewarisan nilai. Pendidikan bukan hanya tentang mencetak manusia yang pintar, tetapi membentuk manusia yang baik. Dan manusia yang baik lahir dari keteladanan yang baik.
.
Karena itu, pesan penting dari Idul Qurban bukan hanya tentang apa yang kita sembelih, melainkan tentang apa yang harus kita singkirkan dari dalam diri. Kesombongan, keangkuhan intelektual, sikap merasa paling benar, ketidakmampuan mendengar pendapat orang lain, serta berbagai bentuk egoisme itulah yang sesungguhnya perlu dikorbankan. Dalam dunia akademik, godaan untuk merasa paling tahu sering kali datang tanpa disadari. Semakin banyak membaca, menulis, dan menempuh jenjang pendidikan, semakin besar pula kemungkinan seseorang terjebak dalam ilusi pengetahuan. Padahal para nabi justru mengajarkan kerendahan hati. Semakin dekat seseorang kepada kebenaran, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.
.
Karena itu, qurban juga dapat dimaknai sebagai kesediaan mengorbankan ego intelektual. Mengorbankan keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan. Mengorbankan dorongan untuk selalu didengar tanpa mau mendengar. Mengorbankan kecenderungan untuk menghakimi sebelum memahami. Bukankah banyak konflik sosial, politik, bahkan akademik, berawal dari ketidakmampuan manusia menghargai sesamanya secara proporsional?
Nasihat sederhana dari seorang kawan pada hari-hari Tasyrik ini akhirnya membawa saya pada pemahaman yang lebih dalam tentang adab. Adab bukan sekadar sopan santun dalam bertutur kata. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adab adalah kesediaan menghormati orang lain tanpa kehilangan prinsip. Adab adalah kemampuan menjaga martabat sesama tanpa harus mengorbankan kebenaran. Dan Adab itu tentu saja lebih tinggi dari Ilmu.
Maka jika Idul Fitri sering dimaknai sebagai momentum kembali kepada kesucian, Idul Qurban dapat dimaknai sebagai momentum kembali kepada keteladanan. Keteladanan Ibrahim dalam integritasnya, Ismail dalam kesadarannya, dan Hajar dalam keteguhan ikhtiarnya.
.
Hari-hari Tasyrik akan segera berlalu. Daging qurban akan habis dibagikan. Perayaan pun akan usai. Namun semoga pelajaran yang diwariskan keluarga Ibrahim tidak ikut berlalu bersamanya. Pada akhirnya, qurban bukanlah peristiwa tahunan semata. Ia adalah panggilan untuk terus belajar mengalahkan ego, memuliakan sesama, dan meneguhkan adab sebagai fondasi kehidupan. Dan bagi saya pribadi, pelajaran itu hadir melalui dua kalimat yang sederhana tetapi bermakna dalam: ‘mohon maaf & terima kasih’ sudah diingatkan.
.
Dua kalimat yang tampaknya ringan, tetapi sesungguhnya menjadi tanda bahwa manusia masih memiliki kerendahan hati untuk menghargai sesama dan keberanian untuk memperbaiki dirinya sendiri. Di situlah, mungkin, letak makna terdalam qurban bagi pendidikan dan kehidupan kita hari ini. (OR)
Bumi Allah, 12 Dzulhijah 1447 H.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Contact Redaksi: 081377271073
Editor/ Publisher Sumbar Times Oke. www.sumbartimesoke.id













