JEJAK NUSANTARA DALAM LANSKAP MELAKA MALAYSIA Oleh Otong Rosadi, Dosen Universitas Ekasakti & Komunitas Penulis Produktif – Insan Cita

- Penulis

Selasa, 5 Mei 2026 - 02:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALAKA MALAYSIA, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id – Rencana pembuatan jembatan dari kaasan Masjid Tanah Melaka (ejaan resmi Melayu) di Malaysia ke Dumai Provinsi Riau Indonesia sepanjang 47,7 KM masih di tahap uji kelayakan. Nampaknya inilah salah satu alasan yang mendorong Penulis kembali datang ke Negeri Melaka. Terakhir Penulis datang saat acara ICGE (Internasional Conference on Global Education) UKM-UNES.
Kedatangan Penulis dan keluarga serta beberapa Dosen Muda tanggal 10-19 Februari 2026 yang baru lalu. Untuk memenuhi undangan banyak pihak di Semenanjung Malaysia. Ada jemputan Seminar Internasional di UIS Selangor, ada FGD di UKM akhirnya ke Seremban kediaman Ketua Sekretarian Kantor MPU Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, Koperasi Pendidik Bangi Berhad di Putrajaya, Silaturahmi di Masjid Tanah, Hotel Mudzaffar di Melaka, Pondok Mad Kecil, UnisZA Terengganu dan Kualalumpur.
Jejak Nusantara Diketahui Tanpa Sengaja

Tulisan ini mencatatkan perjalanan kedua Penulis ke Negeri paling dekat dengan Sumatera, dari perspektif sejarah dan kaitannya dengan hari ini Penulis tiba di Masjide Tanah, menjelang Maghrib Jumat 13 Feberuari. Sabtu pagi, 14 Februari, kami memulai hari dari pesisir selatan Melaka. Seusai Subuh, kami berkemas dari Chalet Pak Sheikh, meninggalkan hembus angin laut yang masih menyimpan dingin malam sebelumnya.
Agenda hari itu padat, tetapi lebih dari sekadar kunjungan biasa—ia adalah perjalanan menelusuri jejak Nusantara yang masih hidup dalam lanskap Melaka hari ini. Kami sarapan di rumah Ayah dan Umi di Ayer Limau. Sekaligus mencicipi pulut tapai yang manisnya sederhana, terbalut daun pisang yang harum. Dari kehangatan rumah keluarga, perbincangan mengalir tentang asal-usul—tentang lima bersaudara dari Pagaruyung yang merantau dan menanam jejak di bumi Alor Gajah dan sekitarnya. Dari sanalah garis keturunan berkembang, berlapis generasi, menyatu dengan tanah Melaka tanpa kehilangan akar Minangkabau.
Perjalanan kami kemudian menuju Kampung Melekek Dalam. Di sana berdiri Masjid An-Nur Melekek Dalam, masjid kampung yang sederhana namun menjadi pusat denyut jamaah. Di halaman belakangnya terdapat pusara Tok Malim Panjang—tokoh yang diyakini berasal dari Pagaruyung dan pernah menjadi orang penting di kampung itu. Letak makam yang berdekatan dengan masjid menandakan kemuliaan dan penghormatan masyarakat kepadanya. Kami menziarahi dengan doa yang tenang, lalu menunaikan salat Dhuha—seakan menyambung simpul antara sejarah keluarga dan ibadah hari ini.

Dari Minangkabau ke Sembilan Rantau

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah diteruskan ke kawasan Naning. Di sinilah lanskap sejarah Nusantara tampak lebih jelas. Kawasan Naning hari ini merupakan sebuah kawasan dalam negeri Melaka. Namun pada abad ke-16, Naning ialah salah satu negeri asal yang membentuk persekutuan awal Negeri Sembilan—sebuah gabungan sembilan rantau Minangkabau yang diteroka oleh pendatang dari Minangkabau dan Sumatera umumnya.

Menurut catatan T.J. Newbold dalam Political and Statistical Account of the British Settlements in the Straits of Malacca (1839), Kawasan Naning termasuk antara negeri yang membentuk Persekutuan Negeri Sembilan. Masyarakat Minangkabau dipercayai telah mula meneroka kawasan ini seawal abad ke-14 melalui gelombang penghijrahan dari Sumatera. Perpindahan itu bukan sekadar pergerakan manusia, tetapi perpindahan adat, struktur sosial, dan sistem kepemimpinan yang berakar pada Adat Perpatih.

Di tanah bersejarah itu, Penulis berdiri di hadapan makam Datuk Abdul Said, atau Dato’ Dol Said, penghulu Naning yang masyhur menentang tuntutan cukai Inggeris pada awal abad ke-19. Perlawanan Naning bukan sekadar konflik wilayah kecil, melainkan simbol harga diri dan kedaulatan. Di pusara itu, terasa bagaimana sejarah bukan sekadar teks, melainkan tapak nyata tempat manusia pernah memilih untuk teguh mempertahankan maruah dan hak.

Tidak jauh dari makam beliau, terdapat kompleks Makam Batu Aceh dan megalit. Batu-batu nisan tua dengan seni ukir khas Aceh—diperkirakan berasal dari abad ke-14 hingga ke-16—menjadi saksi hubungan peradaban antara Aceh, Melaka, dan Sumatera. Batu Aceh bukan sekadar penanda kubur, melainkan bukti jaringan intelektual, dakwah, dan perdagangan yang merajut Alam Melayu jauh sebelum batas-batas negara modern terbentuk. Di bawah rimbun pepohonan, batu-batu megalitik yang lebih purba lagi seakan mengingatkan bahwa tanah ini menyimpan lapisan sejarah yang panjang dan berkesinambungan.

Jejak Minangkabau semakin nyata ketika kami menatap Rumah Balai Datuk Perpatih, yang terpelihara di wilayah Melaka yang bersempadan dengan Negeri Sembilan. Atapnya yang melengkung menyerupai tanduk kerbau menjadi simbol visual Adat Perpatih—sistem sosial matrilineal yang dibawa dari ranah Minang dan berkembang di Negeri Sembilan serta Naning. Balai adat itu bukan sekadar bangunan warisan; ia adalah ruang musyawarah, tempat nilai dan hukum adat dijaga serta diwariskan lintas generasi.

Melaka Hari Ini: Cermin Masa Lalu
Melaka hari ini memang dikenal sebagai kota warisan dengan jejak kolonial yang kuat. Namun di balik bangunan Portugis dan peninggalan Belanda, terdapat lapisan lain yang lebih tua dan lebih akrab dengan jiwa Nusantara: jejak Minangkabau, Aceh, Naning, dan jaringan Alam Melayu. Ia hadir dalam peninggalan makam tua, Surau, dalam balai adat, dalam masjid kampung, bahkan dalam percakapan keluarga tentang asal-usul.

Perjalanan sehari itu menyadarkan kami bahwa Nusantara bukan sekadar konsep geografis atau romantika sejarah. Ia adalah jaringan ingatan yang hidup—terawat dalam adat, terpatri dalam batu nisan, dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat. Di Melaka, jejak itu tidak hilang; ia menyatu dalam lanskap, menjadi bagian dari identitas yang terus bertahan.

Jejak Nusantara dalam lanskap Melaka kini adalah kisah tentang kesinambungan: bagaimana sejarah merantau, berakar, lalu tumbuh menjadi identitas bersama—dan bagaimana ziarah kepada makam, balai adat, serta masjid kampung sejatinya adalah ziarah kepada diri dan asal-usul kita sendiri. Masuk akal kiranya jika ikhtiar pembangunan jembatan itu dimula kajiannya tahun ini, karena kita memang sudah terhubung sejak semula. Punulis by; (OR)

Editor/ Publisher Sumbar Times Oke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Ratusan Modifikator Truk dan Bus Ramaikan Padang Panjang Auto Show 2026
“Eksploitasi Emas Ilegal di Solok Memakan Korban: Ratusan Ekskavator Diduga Bebas Beroperasi, Kapolri Diminta Turun Tangan”
LMR-RI Desak Kapolri Sikat Ratusan Alat Berat Tambang Emas Ilegal di Solok, Oknum APH Diduga Terlibat!

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:22 WIB

Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:10 WIB

Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:38 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terbaru