Penulis: Tarma Sartima, Ph.D
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasakti
PADANG, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id — Kampus selayaknya menjadi rumah ilmu, tempat lahirnya integritas, dan ruang pembentukan moral intelektual. Namun hari ini, di tengah megahnya gedung perguruan tinggi dan ramainya seminar akademik, publik justru semakin sering mendengar cerita yang memalukan seperti jual beli nilai, plagiarisme, skripsi dan tesis pesanan, manipulasi penelitian, hingga budaya akademik transaksional yang perlahan dianggap biasa. Ironisnya, praktik itu tidak tumbuh di pasar gelap, tetapi di ruang yang seharusnya menjaga kehormatan ilmu. Inilah tanda paling nyata ketika kampus mulai kehilangan adab.
Kita hidup di era ketika pendidikan tinggi semakin modern secara teknologi, tetapi belum tentu semakin sehat secara moral. Kampus berlomba mengejar akreditasi unggul, ranking internasional, indeks sitasi, dan publikasi ilmiah. Dosen dituntut produktif, mahasiswa didorong cepat lulus, sementara institusi sibuk membangun citra akademik. Dalam tekanan seperti itu, integritas perlahan tergeser oleh pragmatisme. Ilmu tidak lagi selalu dipandang sebagai jalan pencarian kebenaran, tetapi sebagai alat memperoleh status sosial, jabatan, dan keuntungan ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satire sosialnya terasa begitu dekat. Ada dosen yang rajin berbicara tentang etika akademik di seminar, tetapi diam-diam membiarkan budaya “titip nilai”. Ada yang lantang mengkritik korupsi negara, tetapi menjadikan ruang akademik sebagai arena transaksi terselubung. Bahkan ada yang menjual jasa pembuatan skripsi dan tesis secara rapi, seolah ilmu pengetahuan hanyalah barang dagangan. Yang lebih menyedihkan, praktik-praktik itu sering tidak lagi menimbulkan rasa malu.
Budaya akademik akhirnya bergerak ke arah yang berbahaya bahwa ketidakjujuran yang dinormalisasi. Fenomena plagiarisme misalnya, semakin sering terdengar di dunia kampus. Ada karya ilmiah yang disalin sebagian, penelitian yang dimanipulasi, hingga publikasi yang sekadar mengejar angka administratif. Di beberapa tempat, mahasiswa bahkan tidak lagi malu menggunakan jasa pembuatan skripsi. Mereka cukup membayar, lalu memperoleh karya ilmiah instan tanpa proses intelektual yang jujur.
Ironisnya, praktik ini tidak mungkin tumbuh tanpa adanya pembiaran dari lingkungan akademik sendiri. Padahal, dalam filsafat pendidikan, ilmu selalu berkaitan dengan moral. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut bahwa krisis terbesar pendidikan modern adalah loss of adab—hilangnya adab. Ketika adab hilang, ilmu kehilangan makna moralnya. Pengetahuan tidak lagi dipakai untuk mencerdaskan manusia, tetapi sekadar menjadi alat prestise dan kepentingan pribadi.
Kampus modern hari ini memang hidup dalam budaya kompetisi yang keras. Dosen diburu target publikasi, mahasiswa ditekan cepat wisuda, dan institusi dipaksa memenuhi berbagai indikator administratif. Namun tekanan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan praktik tidak etis. Sebab kehancuran moral akademik selalu dimulai dari pembenaran-pembenaran kecil.
Ada dosen yang merasa wajar meminta “imbalan tertentu” demi mempermudah urusan akademik mahasiswa. Ada pula yang menjadikan bimbingan skripsi sebagai ruang memperlihatkan kuasa, bukan membangun proses belajar. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya belajar satu hal berbahaya dari kampus bahwa uang dan relasi kadang lebih menentukan daripada kejujuran. Jika ini terus dibiarkan, kampus sedang memproduksi generasi terdidik yang kehilangan integritas.
Filsuf Brasil Paulo Freire pernah menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia. Namun pendidikan kehilangan makna ketika dosen sendiri tidak lagi memberi teladan moral. Sebab mahasiswa bukan hanya belajar dari teori, tetapi juga dari perilaku para pendidiknya.
Contoh etis sebenarnya sederhana. Dosen yang menolak segala bentuk gratifikasi akademik. Dosen yang mengoreksi karya ilmiah secara jujur meskipun mahasiswa tidak menyukainya. Dosen yang membimbing skripsi sebagai proses intelektual, bukan sekadar formalitas administrasi. Atau dosen yang berani menolak plagiarisme meskipun pelakunya memiliki kedekatan tertentu.
Sebaliknya, perilaku yang tidak etis juga semakin mudah ditemukan. Nilai yang bisa dinegosiasikan. Tesis yang dibuatkan pihak lain. Seminar akademik yang lebih sibuk pencitraan daripada substansi. Bahkan budaya saling melindungi pelanggaran akademik demi menjaga nama institusi. Di titik inilah kampus kehilangan marwahnya.
Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menjelaskan bahwa pengetahuan selalu berkaitan dengan relasi kuasa. Dalam konteks kampus, ilmu bisa berubah menjadi alat dominasi ketika moral tidak lagi menjadi pengendalinya. Dosen dihormati bukan karena keteladanan, tetapi karena posisi akademiknya. Padahal otoritas tanpa integritas hanya akan melahirkan ketakutan, bukan penghormatan.
Hari ini, dunia pendidikan tinggi membutuhkan lebih dari sekadar dosen pintar. Kampus membutuhkan dosen yang mampu menjaga kehormatan ilmu. Sebab kampus bukan pabrik ijazah, melainkan ruang pembentukan karakter bangsa.
Pada akhirnya, ancaman terbesar pendidikan tinggi bukan rendahnya teknologi atau kurangnya fasilitas. Ancaman terbesar kampus adalah ketika ketidakjujuran menjadi budaya dan adab kehilangan tempatnya.
Karena ketika kampus kehilangan adab, ilmu tidak lagi melahirkan pencerahan. Ia hanya menghasilkan manusia berpendidikan yang mungkin hebat secara gelar, tetapi miskin tanggung jawab moral. Dan mungkin, di tengah dunia akademik yang semakin sibuk mengejar prestise, kejujuran justru menjadi mata kuliah yang paling langka diajarkan. By:(TS)
Editor/ Publisher Sumbar Times Oke













