Menemani Ust. Ari Jauharuddin Bersafari Silaturahmi di Terengganu

- Penulis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Otong Rosadi
Dosen Universitas Ekasakti dan Pegiat Komunitas Penulis Produktif Insan Cita

 

TERANGGANU, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id – Jika boleh diibaratkan, rangkaian safari ini mengingatkan penulis pada perjalanan Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan ruhani yang sarat pelajaran, hikmah, dan perenungan. Demikianlah yang penulis rasakan ketika mendampingi Ust. Ari Jauharuddin, Pimpinan Ma’had Qur’an Taajul Huffazh Kamang Mudiak Agam, dalam safari silaturahmi ke Terengganu.
.
Bagi penulis, perjalanan ini adalah perjalanan spiritual. Banyak pelajaran yang dipetik dari kesalihan, kesederhanaan, dan ketawadhuan Ust. Ari Jauharuddin. Dalam kesehariannya, beliau lebih banyak memperlihatkan keteladanan dibandingkan nasihat lisan. Ustadz mendidik para ustadz dan ustadzah yang ikut dalam rombongan dengan cara yang sangat halus, tetapi mendalam. Dalam diamnya, beliau mengamati setiap anggota rombongan, lalu melakukan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang dijalankan masing-masing peserta tanpa banyak diketahui oleh anggota lainnya. Diam-diam, tetapi penuh perhatian. Sungguh cara mendidik yang elegan dan mengesankan. Bahkan ketika ada anggota yang dinasihati secara khusus, anggota lain tidak mengetahuinya. Inilah pelajaran pertama yang penulis dapatkan dari safari ini: mendidik tidak harus dengan suara keras, tetapi dengan keteladanan dan kebijaksanaan.
.
Hari pertama di Terengganu, kami tiba pada dini hari Jumat. Setelah perjalanan panjang, kami langsung melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjid Wakaf Tembesu. Kami ditemani Ayah Haji Mohammad Kamal, seorang pensiunan guru penolong yang dahulu mengajar mata pelajaran agama dan nasionalisme di sekolah swasta. Jika di Indonesia, posisi beliau kurang lebih serupa guru PNS yang diperbantukan di sekolah swasta.
.
Ayah Haji Mohammad Kamal memperlihatkan keteladanan hidup yang sangat menginspirasi. Meski usia telah lanjut dan telah pensiun, beliau tetap istiqamah memakmurkan masjid. Ayah memiliki kebiasaan yang telah dijaga lebih dari 40 tahun: selalu datang lebih awal ke masjid sebelum azan berkumandang untuk berjamaah. Jarak rumah Ayah dan Ummi di kawasan Gong Badak, dekat stasiun pengisian minyak Petronas, menuju masjid sebenarnya tidak jauh, hanya sekitar satu kilometer. Namun Ayah dan Ummi tetap membawa kami menggunakan mobil mereka masing-masing, bahkan keduanya menyetir sendiri. Penulis menyaksikan bagaimana masa pensiun dijalani dengan penuh ketenangan, ibadah, dan pengabdian kepada masyarakat. Istiqamah Ayah Haji Mohammad Kamal menjadi pelajaran kedua bagi penulis: usia dan pensiun bukan alasan untuk berhenti mengabdi kepada Allah SWT.
.
Tentang Ummi Hj. Seripah Azzah, beliau juga seorang pensiunan yang sangat aktif dan penuh semangat kehidupan. Ummi memiliki banyak komunitas pertemanan dan hobi berpetualang. Banyak negara telah beliau kunjungi, mulai dari Indonesia, Thailand, negara-negara Timur Tengah, hingga Eropa. Dalam banyak kesempatan, Ummi juga dikenal gemar bersedekah dan berbagi. Penulis beberapa kali mendengar beliau menyebut nama-nama daerah di Indonesia tempat beliau pernah menyalurkan bantuan dan berbagi kebahagiaan.Dari Ummi, penulis mendapatkan pelajaran ketiga: semakin luas perjalanan hidup seseorang, seharusnya semakin luas pula kepeduliannya kepada sesama.
.
Asbab Ust. Ari Jauharuddin, penulis mendapat kesempatan bersilaturahmi dengan sosok-sosok luar biasa seperti Ayah Haji Mohammad Kamal dan Ummi Hj. Seripah Azzah. Dari merekalah penulis melihat wajah Melayu-Islam yang hidup dalam kesederhanaan, keramahan, dan semangat ukhuwah. Wajah Melayu-Islam yang tenang, teduh, dan menyejukkan. Nilai-nilai agama tidak tampil dengan hiruk-pikuk, melainkan hadir dalam adab, ketertiban, keramahan, dan keteladanan hidup sehari-hari.
.
Ketenangan itu juga terasa dalam suasana negeri Terengganu sendiri. Penataan negerinya tampak rapi dan bersih. Jalan-jalan tertata, lingkungan masjid terpelihara, lalu lintas tidak bising, dan masyarakat hidup dengan ritme yang tidak tergesa-gesa. Ada nuansa “petadbirian Melayu-Islam” yang terasa lembut tetapi berwibawa. Modernitas hadir tanpa kehilangan akar budaya dan nilai agama. Terengganu seolah memperlihatkan bahwa kemajuan tidak harus menghadirkan kegaduhan.
.
Berbekal jaringan silaturahmi Ummi pula, Ust. Ari Jauharuddin mengunjungi beberapa surau dan majelis ilmu di Terengganu. Kami menghadiri majelis ta’lim yang diikuti puluhan jemaah untuk bershalawat dan mendengarkan tausiyah agama. Suasana majelis terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak ada jarak antara tamu dari Indonesia dan masyarakat setempat. Semua terasa seperti keluarga besar dalam ikatan Islam dan budaya Melayu.
.
Usai sholat berjamaah, Kami berkesempatan bersilaturahmi dengan Baba Ku Syed H. Suhaimi Al-Alydrus yang kebetulan mengisi kajian di Masjid Wakaf Tembesu. Menariknya, Baba Ku Syed H. Suhaimi Al-Alydrus ternyata memiliki garis nasab yang sama dengan Ummi Hj. Seripah Azzah. Pertemuan itu memperlihatkan bagaimana hubungan kekeluargaan dan jaringan ulama Melayu masih terjaga erat di Terengganu. Dari pertemuan ini, penulis memperoleh pelajaran keempat: nasab dan silaturahmi akan menemukan jalannya ketika dipertemukan dalam kecintaan yang sama kepada Allah SWT.
.
Di rangkaian safari tersebut, kami juga berkunjung ke Maahad Qatrunnada, sebuah pondok pendidikan Al-Qur’an dan tahfiz yang cukup dikenal di kawasan tersebut. Di tempat ini para santri belajar membaca, menghafal, dan mendalami Al-Qur’an dalam suasana pendidikan pondok yang sederhana namun penuh keberkahan. Yang menarik, di kawasan pondok tersebut juga terdapat pondok warga emas, tempat para orang tua mengikuti kegiatan ta’lim dan ibadah. Penulis melihat bagaimana pendidikan Islam di Terengganu tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak muda, tetapi juga menjadi ruang pembinaan ruhani bagi kalangan lanjut usia. Tradisi ilmu benar-benar hidup dari generasi muda hingga generasi tua. Dari sini penulis memperoleh pelajaran kelima: menuntut ilmu memang berlangsung sejak buaian hingga liang lahat.
.
Perjalanan safari dan berbagai pelajaran yang diperoleh dari silaturahmi ini akhirnya menambah tebal kesadaran Penulis bahwa kekuatan umat bukan semata terletak pada kemajuan fisik-material, melainkan pada terpeliharanya adab, ilmu, silaturahmi, dan keteladanan. Di Terengganu, penulis menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai Islam Melayu tetap hidup dalam keseharian masyarakatnya.
.
Mungkin inilah makna terdalam dari sebuah perjalanan: bukan sekadar melihat tempat baru, tetapi menemukan pelajaran hidup dari orang-orang baik yang Allah SWT pertemukan di sepanjang perjalanan. Di negeri Melayu seperti Terengganu, penulis merasakan bahwa Islam tidak hanya diajarkan di mimbar-mimbar masjid, tetapi hidup dalam perilaku masyarakat, dalam keramahan tuan rumah, dalam kebersihan lingkungan, dalam ketenangan kota, dan dalam wajah-wajah teduh orang-orang yang memuliakan tamunya.(OR)

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Editor/ Publisher Sumbar Times Oke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Ratusan Modifikator Truk dan Bus Ramaikan Padang Panjang Auto Show 2026
“Eksploitasi Emas Ilegal di Solok Memakan Korban: Ratusan Ekskavator Diduga Bebas Beroperasi, Kapolri Diminta Turun Tangan”
LMR-RI Desak Kapolri Sikat Ratusan Alat Berat Tambang Emas Ilegal di Solok, Oknum APH Diduga Terlibat!

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:22 WIB

Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:10 WIB

Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:38 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terbaru