Oleh: Otong Rosadi
PADANG, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id. – Kemarin saat saya menulis di artikel dengan tajuk “Saat Ilmu Kehilangan Orientasi”. Saya sampai pada satu kegelisahan mendasar: ilmu hari ini semakin diukur dari seberapa banyak dipublikasikan, dipertandingkan, dan diperdagangkan. Ilmu menjadi barang dagangan, sebatas komoditas, bukan dari seberapa jauh ilmu melahirkan kebijaksanaan, keadilan, dan kemanfaatan bagi kehidupan.
Kegelisahan itu membawa saya pada pertanyaan yang lebih dalam: jika ilmu telah kehilangan orientasi, lalu bagaimana dengan pendidikan sebagai rumah tempat ilmu itu dibentuk?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di titik inilah saya melihat bahwa persoalan terbesar pendidikan kita hari ini bukan semata rendahnya mutu, ketimpangan akses, atau perubahan kurikulum yang terlalu sering. Persoalan yang lebih mendasar adalah pendidikan perlahan kehilangan rumah peradabannya. Pendidikan bergerak semakin jauh dari tugas utamanya: memanusiakan manusia.
Kita memang berhasil membangun banyak sekolah dan perguruan tinggi. Kita berhasil meningkatkan angka partisipasi pendidikan. Kita menghasilkan ribuan sarjana, magister, doktor, bahkan profesor setiap tahun. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kita juga menyaksikan ironi sosial yang tidak kecil. Korupsi tetap tumbuh di negeri yang penuh orang pintar. Manipulasi hukum dilakukan oleh mereka yang memahami hukum. Kerusakan lingkungan sering dirancang oleh mereka yang menguasai ilmu pembangunan dan teknologi. Kekerasan digital lahir dari generasi yang sangat terdidik secara teknologi, tetapi miskin empati sosial.
Lalu untuk apa sesungguhnya pendidikan itu diselenggarakan?
Pertanyaan ini menjadi penting karena pendidikan kita perlahan berubah menjadi mekanisme produksi sosial. Sekolah dan kampus bekerja mengikuti logika industri: menghasilkan lulusan yang siap memasuki pasar kerja. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar. Kompetensi diukur dari daya saing ekonomi. Bahkan keberhasilan pendidikan sering direduksi menjadi keberhasilan material.
Dalam sistem seperti itu, manusia perlahan dipersempit hanya menjadi instrumen produksi. Anak-anak dididik untuk cepat bersaing, tetapi kurang diajarkan memahami makna hidup. Mereka dilatih menjadi kompetitif, tetapi tidak cukup dibimbing menjadi manusia yang memiliki kepekaan sosial. Pendidikan akhirnya melahirkan kecerdasan teknis, tetapi gagal membangun kedalaman moral.
Padahal inti pendidikan sesungguhnya bukan sekadar how to work, melainkan how to live.
Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami siapa dirinya, apa tanggung jawabnya terhadap sesama, dan bagaimana menggunakan ilmu untuk menjaga kehidupan. Sebab manusia bukan sekadar makhluk ekonomi. Ia adalah makhluk moral, makhluk kebudayaan, sekaligus makhluk spiritual yang membutuhkan makna.
Karena itu kegagalan terbesar pendidikan hari ini bukan rendahnya penguasaan teknologi, melainkan hilangnya orientasi kemanusiaan dalam pendidikan itu sendiri.
Kita terlalu sibuk membangun manusia yang “berguna bagi pasar”, tetapi kurang sungguh-sungguh membangun manusia yang berguna bagi kehidupan.
Akibatnya lahirlah generasi yang sangat terkoneksi secara digital, tetapi terasing secara sosial. Banyak yang cerdas berbicara tentang kesuksesan, tetapi gagap memahami penderitaan orang lain. Banyak yang memiliki gelar akademik tinggi, tetapi kehilangan sensitivitas etik dalam menggunakan pengetahuannya.
Di titik itu, pendidikan sebenarnya sedang mengalami keterputusan dengan akar kebudayaannya sendiri. Dalam tradisi Nusantara, ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab. Orang berilmu dihormati bukan semata karena kecerdasannya, tetapi karena kebijaksanaan hidup dan manfaat sosialnya. Ada mpu, begawan, ulama, kyai, guru surau, dan cerdik pandai adat yang menjadi penjaga keseimbangan moral masyarakat. Mereka mengajarkan bahwa tujuan akhir ilmu bukan hanya kepintaran, melainkan kematangan jiwa.
Tradisi itu perlahan memudar ketika pendidikan modern menjadi terlalu administratif, terlalu teknokratis, dan terlalu birokratis. Sekolah sibuk mengejar angka evaluasi. Kampus sibuk mengejar ranking dan sitasi. Dosen dibebani target publikasi. Mahasiswa diburu kelulusan cepat. Semua bergerak cepat, tetapi sering kehilangan waktu untuk merenung.
Padahal peradaban tidak dibangun hanya oleh manusia pintar. Peradaban bertahan karena ada manusia yang memiliki nurani.
Mungkin karena itu, pendidikan Indonesia perlu kembali pulang ke rumah peradabannya. Yakni rumah yang menempatkan manusia sebagai inti, bukan sekadar pasar. Rumah yang memandang ilmu sebagai jalan kebijaksanaan, bukan semata alat kompetisi. Rumah yang memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang mampu menjaga kehidupan bersama.
Mengembalikan pendidikan ke rumah peradaban berarti mengembalikan hubungan antara ilmu dan moralitas, antara kecerdasan dan tanggung jawab sosial, antara kemajuan dan kemanusiaan. Pendidikan harus kembali memberi ruang bagi refleksi, etika, kebudayaan, filsafat, dan pencarian makna hidup. Sebab bangsa yang kehilangan kemampuan merenung akan mudah terjebak pada pembangunan yang megah secara material, tetapi rapuh secara moral.
Karena itu guru dan dosen tidak cukup hanya menjadi pengajar materi. Mereka harus kembali menjadi pendidik dalam makna yang lebih dalam: menghadirkan keteladanan moral, membimbing watak, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan mekanistik, pendidikan justru harus menjadi ruang terakhir tempat manusia belajar menjadi manusia.
Sebab ketika pendidikan kehilangan rumah peradabannya, maka yang runtuh bukan hanya sekolah dan kampus, melainkan arah masa depan bangsa itu sendiri. By: (OR)
Editor/ Publisher Sumbar Times Oke













