SAAT ILMU KEHILANGAN ORIENTASI

- Penulis

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Otong Rosadi

PADANG, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id – Kita sedang hidup di masa ketika ilmu lebih sering dinilai dari jurnal, sitasi, dan indeks, bukan dari manfaatnya bagi masyarakat. Ukuran kepakaran akademisi perlahan direduksi menjadi pertanyaan administratif: masuk Sinta berapa, Scopus Q berapa, sitasinya berapa, dan terbit di jurnal mana.

Standar akademik seperti metodologi, jurnal ilmiah, dan publikasi tentu penting untuk menjaga kualitas ilmu pengetahuan. Tetapi masalah muncul ketika semua itu berubah dari alat menjadi tujuan utama. Ilmu akhirnya lebih sibuk memenuhi sistem publikasi dari pada menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Moeflich H. Hart menyebut gejala ini sebagai fetisisme akademik, yaitu ketika simbol-simbol akademik seperti jurnal Q1, sitasi, indeks, dan istilah metodologis terlalu diagungkan, sementara tujuan utama ilmu justru dilupakan. Ilmu kemudian berubah menjadi industri pengetahuan yang lebih mengejar legitimasi akademik daripada kemanfaatan sosial.

Akibatnya, ilmu menjadi semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Tulisan akademik makin rumit, istilah makin teknis, metodologi makin kompleks, tetapi masyarakat sering tidak merasakan manfaat langsung dari perkembangan ilmu tersebut. Orang akhirnya menulis bukan untuk masyarakat, tetapi untuk reviewer dan sistem indeksasi.

Padahal dalam tradisi Nusantara, ilmu tidak pernah dipisahkan dari lelaku kehidupan. Ilmu bukan sekadar hafalan, tulisan, atau pengakuan formal, tetapi menyatu dengan laku hidup, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu dalam sejarah Nusantara kita mengenal Mpu, Begawan, Kyai, Pandita, Tuan Guru, dan banyak tokoh ilmuwan lainnya yang dihormati bukan karena gelar atau indeks sitasinya, tetapi karena kedalaman ilmu, keteladanan hidup, dan manfaatnya bagi masyarakat. Mereka hadir di tengah kehidupan rakyat, membimbing, menyelesaikan persoalan sosial, menjaga harmoni, sekaligus membangun peradaban.

Tradisi ilmu Nusantara sesungguhnya sangat saujana—luas pandangannya dan tidak terjebak pada sekat-sekat disiplin yang sempit. Seorang ulama bisa memahami hukum, pertanian, budaya, pengobatan, sastra, hingga kehidupan sosial masyarakat. Ilmu tidak dipenjara dalam ruang akademik yang eksklusif, tetapi hidup dan berkelindan dengan realitas keseharian.

Hal yang sama juga tampak dalam tradisi Islam klasik. Tokoh seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Khaldun, dan Al-Biruni tidak hanya menjadi ahli dalam satu bidang, tetapi menguasai banyak disiplin ilmu sekaligus. Dalam tradisi ini, ilmu dipahami sebagai jalan menuju hikmah dan kemaslahatan, bukan sekadar produksi tulisan akademik.

Karena itu, pertanyaan utama ilmu seharusnya bukan hanya “terbit di jurnal mana?”, tetapi “apa manfaat ilmu ini bagi kehidupan manusia?”

Hari ini kita menghadapi ironi besar. Publikasi ilmiah meningkat, jurnal bertambah banyak, kampus makin sibuk mengejar indeksasi global, tetapi ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, krisis moral, dan ketidakadilan tetap tumbuh di sekitar kita. Ilmu berkembang secara administratif, tetapi sering kehilangan kedekatannya dengan kehidupan.

Kita tentu tidak perlu anti-jurnal atau anti-spesialisasi. Dunia modern tetap membutuhkan penelitian yang mendalam dan disiplin ilmu yang kuat. Tetapi ilmu tidak boleh berhenti pada administrasi akademik. Ilmu harus kembali hadir di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan nyata, dan memberi jalan keluar bagi persoalan manusia.

Sebab pada akhirnya, ukuran tertinggi ilmu bukan hanya seberapa banyak ia dipublikasikan, tetapi seberapa jauh ia melahirkan kebijaksanaan, keadilan, dan kemanfaatan bagi kehidupan. By: (OR)

Editor/ Publisher Sumbar Times Oke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Ratusan Modifikator Truk dan Bus Ramaikan Padang Panjang Auto Show 2026
“Eksploitasi Emas Ilegal di Solok Memakan Korban: Ratusan Ekskavator Diduga Bebas Beroperasi, Kapolri Diminta Turun Tangan”
LMR-RI Desak Kapolri Sikat Ratusan Alat Berat Tambang Emas Ilegal di Solok, Oknum APH Diduga Terlibat!

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:22 WIB

Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:10 WIB

Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:38 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terbaru