TERENGGANU DARUL IMAN: MENENGOK MASA LALU MELAYU NUSANTARA

- Penulis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 02:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Otong Rosadi
Dosen Universitas Ekasakti, Pegiat Komunitas Penulis Produktif Insan Cita

 

TERANGGANU, SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id   –  Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Terengganu. Negeri di Pantai Timur Malaysia itu bukan sekadar salah satu negeri bagian dalam Federasi Malaysia modern, melainkan ruang sejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban Melayu-Islam Nusantara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis bersama rombongan berkesempatan dua kali berkunjung ke negeri yang dikenal dengan julukan “Darul Iman” tersebut, yakni pada 7–13 Agustus 2025 dan kembali berkunjung pada 10–19 Februari 2026. Dua kunjungan itu meninggalkan kesan mendalam. Terengganu bukan hanya destinasi wisata budaya dan wisata bahari, serta negeri dengan identitas Islam yang sangat kuat di Malaysia. Terengganu juga menjadi jendela untuk menengok kembali hubungan sejarah antara Semenanjung Melayu dan Nusantara.

Di negeri ini terdapat dua kampus besar perguruan tinggi negeri (PTN), yakni Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) dan Universiti Malaysia Terengganu (UMT). UniSZA merupakan salah satu universitas negeri penting di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. Kampus utamanya berada di Gong Badak, Kuala Terengganu. Universitas ini berkembang dari institusi pendidikan tinggi Islam—jika di Indonesia setara dengan IAIN—dan kemudian menjadi universitas penuh pada tahun 2005. UniSZA dikenal dalam bidang studi Islam, hukum, kesehatan, bahasa, ekonomi, dan hubungan internasional. Banyak pula mahasiswa internasional berasal dari berbagai negara Asia dan Timur Tengah. Kampus (PTN) lainnya , UMT dikenal sebagai kampus unggulan dalam bidang kelautan, perikanan, oseanografi, dan ilmu lingkungan. Kampus ini berada di Kuala Nerus, tidak jauh dari pesisir Laut Cina Selatan.

Pada 7 Agustus 2025, tepatnya dini hari pukul 02.00 Jumat, bersama rombongan Pondok Al-Qur’an Taajul Huffazh Agam, penulis tiba di Kuala Nerus setelah menempuh perjalanan bus dari TBS (Terminal Bersepadu Selatan), Kuala Lumpur. Jarak dari homestay tempat kami beristirahat di Jalan Gong Badak menuju kampus UniSZA hanya sekitar 3–4 kilometer. Lokasi tersebut juga cukup dekat dengan Bandara Sultan Mahmud Terengganu untuk penerbangan domestik. Pusat kotanya sendiri berada di Kuala Terengganu.

Suasana Melayu di Terengganu langsung terasa begitu kuat. Bahasa yang digunakan akrab di telinga orang Indonesia, terutama masyarakat Sumatera. Ragam kuliner, cara masyarakat berinteraksi, hingga nuansa arsitekturnya menghadirkan kesan bahwa kita sedang berada di wilayah yang secara kultural masih serumpun. Batas negara modern seolah tidak mampu menghapus jejak sejarah panjang dunia Melayu yang sejak berabad-abad telah saling terhubung melalui perdagangan, agama, dan budaya.

Pada Jumat dini hari, kami mulai menikmati suasana keakraban dari tuan rumah yang kami kunjungi, Ayah H. Muhammad Mustafa dan Ummi Hj. Seripah. Dini hari itu pula kami diantar melaksanakan salat berjamaah di Masjid Wakaf Tembesu yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari homestay “Ayah-Ummi”. Salat Jumat pun kami laksanakan di masjid yang sama, dan kebetulan terdapat pelaksanaan salat jenazah untuk salah seorang ahli masjid yang wafat.

Sore harinya kami turut mendoakan 40 hari wafatnya ayahanda dari Ummi Hj. Seripah. Hari-hari kami diisi dengan pengajian bersama jemaah muslimat, zikir, silaturahmi, serta menikmati kuliner khas Terengganu. Selain kegiatan ibadah di Masjid Wakaf Tembesu, kami juga sempat berkunjung singkat ke Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antarabangsa serta Fakulti Pengajian Kontemporari Islam di UniSZA. Namun karena hari Jumat merupakan hari libur di Terengganu, penulis belum berkesempatan bertemu dengan pimpinan fakultas.

Kunjungan kedua dilakukan pada Minggu dan Senin, 15–16 Februari 2026. Salah satu tempat yang paling mengesankan adalah Muzium Negeri Terengganu. Kami menyusuri area museum sambil menikmati penjelasan mengenai berbagai artefak penting sejarah Melayu dan Islam. Di tempat ini, pengunjung dapat menelusuri perjalanan panjang Terengganu sejak masa kerajaan kuno, perdagangan maritim, hingga perkembangan Islam.

Yang paling menarik perhatian tentu adalah kisah tentang Batu Bersurat Terengganu, prasasti abad ke-14 yang menjadi bukti awal berkembangnya Islam dan penggunaan tulisan Jawi di Semenanjung Melayu. Walaupun pada kunjungan tersebut kami belum sempat menikmati penjelasan secara mendalam, keberadaan Batu Bersurat itu menghadirkan kesan historis yang sangat kuat.

Ketika mendapatkan penjelasan mengenai Batu Bersurat tersebut, pikiran penulis langsung tertuju pada hubungan historis antara Terengganu dan Nusantara, terutama Sumatera. Dalam catatan sejarah, kawasan ini pernah berada dalam jaringan pengaruh Sriwijaya. Jalur pelayaran kuno yang menghubungkan Sumatera, Semenanjung Melayu, hingga Laut Cina Selatan menjadikan Terengganu bagian penting dari peradaban Melayu maritim. Karena itu, berada di museum tersebut seperti membaca kembali bab-bab lama sejarah bangsa serumpun yang pernah hidup dalam satu ruang budaya.

Kunjungan berikutnya ke Taman Tamadun Islam atau Pusat Peradaban Islam memberikan pengalaman berbeda. Kawasan ini tidak hanya menjadi ikon wisata religi modern, tetapi juga simbol bagaimana Terengganu memadukan identitas Islam dengan kemajuan pembangunan. Di sana berdiri replika berbagai bangunan penting dunia Islam yang memperlihatkan keterhubungan umat Islam lintas negara dan lintas zaman.

Dan tentu belum lengkap rasanya apabila tidak melaksanakan salat di Masjid Kristal, masjid yang menjadi ikon utama kawasan Taman Tamadun Islam dan salah satu landmark paling terkenal di Terengganu. Disebut “Masjid Kristal” karena desainnya menggunakan kombinasi kaca, baja, dan kristal yang memantulkan cahaya sehingga tampak berkilau, terutama pada malam hari. Masjid ini dibangun sekitar tahun 2006–2008 dan mampu menampung sekitar 1.500 jamaah. Letaknya berada di Pulau Wan Man, di tepi Sungai Terengganu, sehingga suasananya sangat indah dan tenang.

Namun bagi penulis, yang paling menarik bukan sekadar kemegahan bangunannya, melainkan bagaimana masyarakat Terengganu menjaga identitas Melayu-Islam di tengah modernitas. Tradisi berpakaian sopan, penggunaan bahasa Melayu yang kuat, budaya menghormati tamu, serta suasana religius masyarakatnya memberi kesan bahwa nilai-nilai Melayu lama masih hidup dan dirawat dengan baik.

Perjalanan juga membawa kami melewati Jambatan Angkat Kuala Terengganu, jembatan angkat modern yang menjadi salah satu ikon baru Terengganu. Jembatan megah itu menghadirkan simbol menarik tentang pertemuan masa lalu dan masa depan. Di satu sisi, Terengganu mempertahankan akar sejarah dan budaya Melayunya; di sisi lain, negeri ini bergerak maju dengan infrastruktur modern dan tata kota yang tertata.

Kesan paling mendalam selama kunjungan ke Terengganu Darul Iman justru hadir dari suasana Masjid Wakaf Tembesu. Masjid ini menghadirkan suasana tenang dan sederhana, tetapi justru di tempat seperti inilah terasa denyut kehidupan masyarakat Melayu-Islam sehari-hari. Masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat pertemuan sosial, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai budaya masyarakat.

Selama berada di Terengganu, penulis semakin menyadari bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia sesungguhnya jauh melampaui batas politik negara modern. Kita diikat oleh sejarah panjang peradaban Melayu-Nusantara. Bahasa yang serumpun, tradisi Islam yang berkembang bersama, hingga aksara Jawi yang pernah menjadi medium ilmu pengetahuan Melayu menunjukkan adanya akar sejarah yang sama.

Karena itu, berkunjung ke Terengganu sesungguhnya bukan hanya perjalanan wisata biasa, bukan pula semata kunjungan safari dakwah dan pendidikan. Ia adalah perjalanan kebudayaan dan perjalanan sejarah. Kita seperti diajak melihat kembali wajah lama Nusantara yang pernah terhubung oleh laut, perdagangan, dan peradaban Islam Melayu.

Terengganu Darul Iman mengajarkan bahwa modernitas dan sekat negara tidak harus memutus hubungan dengan sejarah. Negeri ini menunjukkan bagaimana identitas budaya dapat tetap dipelihara di tengah perkembangan zaman. Dan bagi siapa pun yang datang dari Indonesia, terutama dari Sumatera, berkunjung ke Terengganu akan menghadirkan perasaan akrab: seolah sedang menengok halaman lain dari rumah besar kita yang bernama Melayu Nusantara. (OR)

Edotor/ Publisher Sumbar Times Oke

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Ratusan Modifikator Truk dan Bus Ramaikan Padang Panjang Auto Show 2026
“Eksploitasi Emas Ilegal di Solok Memakan Korban: Ratusan Ekskavator Diduga Bebas Beroperasi, Kapolri Diminta Turun Tangan”
LMR-RI Desak Kapolri Sikat Ratusan Alat Berat Tambang Emas Ilegal di Solok, Oknum APH Diduga Terlibat!

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:22 WIB

Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:10 WIB

Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:38 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terbaru