TERIMAKASIH JENDERAL GATOT, ONE DAY ONE KHATAM- SELAMAT DATANG JENDERAL DJATI

- Penulis

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMBAR TIMES OKE. www.sumbartimesoke.id – Terimakasih Jenderal Gatot, One Day One Khatam- Selamat Datang Jenderal Djati
Nahkoda Baru Polda Sumatera Barat

Di tubuh Kepolisian Republik Indonesia, pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian nama pada papan jabatan. Ia selalu memuat kesinambungan gagasan, pengalaman, dan tanggung jawab yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di Sumatera Barat, estafet itu kini bergerak dari Gatot Tri Suryanta kepada Djati Wiyoto Abadhy.

Nama Gatot Tri Suryanta meninggalkan jejak tersendiri dalam perjalanan kepolisian daerah ini. Lahir di Bambanglipuro, Bantul, 14 April 1969, ia meniti jalan pengabdian dari ruang-ruang pendidikan kepolisian menuju tanggung jawab yang kian besar di tingkat nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai lulusan Akademi Kepolisian 1991, Gatot dibentuk oleh tradisi disiplin yang keras. Ia datang dari satuan Brigade Mobil, sebuah lingkungan yang menuntut ketangguhan fisik, ketegasan keputusan, sekaligus ketenangan menghadapi situasi paling rumit.

Karier panjang itu tidak dibangun dalam semalam. Dari penugasan ke penugasan, Gatot belajar bahwa kepemimpinan bukan semata memberi perintah, melainkan kemampuan hadir paling depan ketika keadaan menuntut keberanian.

Ketika dipercaya sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat pada 29 Desember 2024, ia datang membawa pengalaman panjang dari struktur pengawasan internal Polri. Jabatan terakhirnya sebelum ke Padang adalah Irwil V Itwasum Polri, posisi yang menuntut kecermatan, integritas, dan kemampuan membaca persoalan secara utuh.

Di Sumatera Barat, tantangan kepolisian selalu khas. Daerah ini bukan hanya kaya budaya, tetapi juga memiliki dinamika sosial yang menuntut pendekatan persuasif sekaligus tegas. Dalam ruang itulah kepemimpinan Gatot diuji.

Selama masa tugasnya, yang paling menonjol bukan sekadar jabatan yang disandang, melainkan pesan tentang pentingnya ketertiban yang dibangun lewat kehadiran negara yang terasa dekat dengan masyarakat. Itulah warisan kepemimpinan yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi.

Gagasan Jenderal Gatot soal one day one khatam sebagai program selama bulan Ramadhan, sesuatu yang menarik bagi Sumateta Barat dan Ranah Minang. Negeri adat basandi syarak-syarak bersandi kitabullah ini.

Jenderal Gatot seakan bahan dengan ABS-SBK yang kemudian diimplementasikan dengan ODOK, kajian rutin, dan program mendatangkan dai kondang seperti Ustad Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad (UAS) dll sebagai bentuk penanaman nilai-nilai agama, moral dan akhlak bagi semua generasi di Sumatera Barat.

Pada 7 Mei 2026, sebuah babak baru dimulai. Tongkat komando Polda Sumatera Barat berpindah kepada Djati Wiyoto Abadhy, perwira tinggi kelahiran Surakarta, 3 Agustus 1969.

Djati juga merupakan lulusan Akpol 1991. Namun jalan pengabdiannya bertumbuh dari medan yang berbeda. Ia dikenal sebagai perwira dengan latar intelijen, bidang yang menuntut kepekaan membaca gejala, kesabaran menyusun langkah, dan ketepatan menakar risiko.

Dalam dunia intelijen, yang paling berharga sering kali bukan tindakan yang tampak, melainkan kemampuan mencegah persoalan sebelum membesar. Karakter itulah yang lama ditempa dalam perjalanan karier Djati.

Sebelum dipercaya memimpin Polda Sumatera Barat, Djati menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Utara. Sebelumnya ia juga pernah menjadi Wakapolda Metro Jaya dan Wakapolda Kalimantan Timur. Rangkaian jabatan itu menunjukkan rentang pengalaman yang luas, dari wilayah metropolitan hingga kawasan perbatasan.

Setiap daerah memberi pelajaran berbeda. Jakarta mengajarkan kompleksitas urban, Kalimantan memberi pengalaman tentang bentang wilayah dan keragaman sosial, sementara Sumatera Barat menuntut pemahaman terhadap adat, budaya, dan kekuatan komunitas.

Masuknya Djati ke Ranah Minang menandai pertemuan antara pengalaman nasional dengan kearifan lokal. Tantangan ke depan bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat kepercayaan publik—sesuatu yang dalam era sekarang menjadi modal paling penting bagi institusi penegak hukum.

Pergantian dari Gatot ke Djati sesungguhnya memperlihatkan wajah Polri yang terus bergerak. Dari seorang perwira berlatar Brimob menuju perwira berlatar intelijen, dari gaya kepemimpinan yang menonjolkan ketegasan lapangan menuju kepemimpinan yang kuat dalam pembacaan situasi.

Namun pada dasarnya, keduanya dipertemukan oleh satu kesamaan: pengabdian yang panjang. Mereka berasal dari generasi yang sama, dibesarkan dalam disiplin akademi yang sama, lalu berjalan di jalur berbeda untuk tujuan yang serupa.

Di balik seragam, pangkat, dan protokoler jabatan, ada kisah tentang ketekunan yang sering luput dilihat. Karier puluhan tahun itu adalah kumpulan hari-hari biasa: tugas yang berat, keputusan yang tidak populer, serta kesediaan memikul tanggung jawab saat keadaan tidak mudah.

Bagi generasi muda, kisah Gatot dan Djati memberi pelajaran sederhana tetapi penting. Bahwa keberhasilan bukan semata soal kecepatan naik jabatan, melainkan kesediaan bertahan, belajar, dan terus menyiapkan diri ketika amanah yang lebih besar datang.

Di institusi sebesar Polri, jabatan boleh berganti, tetapi nilai-nilai yang menopang pengabdian tidak boleh berubah. Integritas, kedisiplinan, dan kemampuan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi tetap menjadi fondasi utama.

Sumatera Barat kini memasuki fase baru kepemimpinan kepolisian. Masyarakat tentu berharap kesinambungan kerja yang telah dibangun tetap terjaga, sembari membuka ruang bagi pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Pada akhirnya, sejarah kepemimpinan selalu ditulis oleh waktu. Namun dari peralihan Gatot Tri Suryanta kepada Djati Wiyoto Abadhy, publik dapat melihat satu hal yang tetap: negara terus berjalan karena ada orang-orang yang memilih mengabdikan hidupnya, setahap demi setahap, tanpa banyak suara.

Release; By: NOFRISKI YOLANDO, S.H.

Editor/ Publisher SUMBAR TIMES OKE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel sumbartimesoke.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”
Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI
Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak
Ratusan Modifikator Truk dan Bus Ramaikan Padang Panjang Auto Show 2026
“Eksploitasi Emas Ilegal di Solok Memakan Korban: Ratusan Ekskavator Diduga Bebas Beroperasi, Kapolri Diminta Turun Tangan”
LMR-RI Desak Kapolri Sikat Ratusan Alat Berat Tambang Emas Ilegal di Solok, Oknum APH Diduga Terlibat!

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 21:37 WIB

“Mabes Polri Didesak Ambil Alih Kasus PETI Solok, Diduga Ada Oknum APH dan Oknum Pers ‘Main Mata’”

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:22 WIB

Siswi SMAN 1 Rao Raih Medali Emas O2SN Sumatera Barat 2026, Harumkan Nama Cabang Dinas Wilayah VI

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:10 WIB

Haji Rusli (Suli): Sosok Pemuda Inspiratif Kebanggaan Solok, Berhati Emas dan Dermawan Tanpa Batas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:38 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:27 WIB

Dugaan Mafia BBM Subsidi Pasok PETI di Solok: Ratusan Alat Berat Rusak Hutan Lindung, APH Diminta Bertindak

Berita Terbaru