KAMPUNG LALANG, SIMPATI, SUMBAR TIMES OKE – Selasa, 14 April 2026, menjadi hari yang kelam bagi Hayatul Sisra. Harapan yang ia semai di atas tanah kebun jagungnya di Kampung Lalang mendadak sirna setelah terjangan banjir bandang (galodo) meluluhlantakkan segalanya dalam sekejap.
Banjir yang membawa material berat tersebut tidak hanya menghanyutkan tanaman jagung yang siap tumbuh, tetapi juga meninggalkan duka mendalam. Kebun yang semula hijau kini berubah menjadi hamparan pilu yang tertutup tumpukan pasir, bebatuan besar, dan potongan kayu gelondongan.
Kerugian Materil dan Pukulan Batin
Berdasarkan taksiran awal, Hayatul Sisra harus menelan kerugian materil hingga puluhan juta rupiah. Namun, kerugian sesungguhnya lebih dari sekadar angka. Tenaga, waktu, dan harapan yang dicurahkan untuk menghidupi keluarga melalui hasil bumi tersebut kini terkubur di bawah sisa-sisa bencana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Bukan hanya tanamannya yang hilang, tapi lahan produktif tersebut sekarang rusak parah. Dibutuhkan upaya besar dan biaya yang tidak sedikit untuk membersihkan material batu dan kayu agar lahan bisa kembali diolah,” ujar salah satu kerabat yang menyaksikan kondisi di lapangan.
Butuh Uluran Tangan dan Perbaikan Segera
Pasca bencana, Hayatul kini dihadapkan pada tantangan besar. Proses pembersihan lahan dari tumpukan kayu dan batu membutuhkan alat berat dan bantuan tenaga kerja yang memadai. Tanpa perbaikan segera, mata pencaharian utama warga Kampung Lalang ini terancam lumpuh total dalam jangka waktu yang lama.
Melalui rilis ini, diharapkan adanya perhatian dari pihak terkait dan masyarakat luas untuk membantu meringankan beban yang dipikul oleh Hayatul Sisra. Di tengah sisa-sisa lumpur dan bebatuan, terselip harapan agar kehidupan petani kecil seperti dirinya bisa segera bangkit kembali.Release by; Bilhamdika
Editor/ Publisher Sumbar Times Oke












